MALAM
Oleh : Neng Qori
Nur Awaliah Setelah sunset itu,
keindahannya memang direguk sekaligusSeolah setelah itu
jingganya tak abadiYa, langit kini
mulai bermuram berganti wajahKilas-kilas
keindahannya telah dijilati warna pekat legam Suara anak-anak mulai
reda, tawa-tawa mulai menjauhDesir angin membawa
kabar sampai ke timurMengucap selamat
tinggal pada sebuah cahayaSebagian keindahan
telah direbahkan dibalik bumiDi balik yang tak
pernah diketahui,seolah jiwa hanya
bisa mengumbacarakannya Sesuatu terjadi
begitu cepatKarna pedang zaman
perlahan-lahan menghunus waktuAngin mendesir
menyusuri dan menggeliati bumiIa menjamah sampai
pada titik kepasrahan Dan, kini hanya
awan hitam yang berhamburanMenutup sementara
harapan-harapanHarapan kebanyakan
insan telah diistirahatkanNamun taukah engkau
wahai malam, ya kaulah malamAda harapan yang
justru hidup saat kau di bangkitkanHarapan itu adalah
sebuah kepasrahan pada takdir Tumbuh menjadi
sengketa keniscayaan atas kenistaanMenabur mawar-mawar
layu atas sebuah kehausan duniawiDan padamu malam,
beberapa jiwa tak seindah gelapmuYa, dan bumi ini
punya hukum yang mengecamnyaKehinaan itu seolah
jalan yang dogmatis, jalan mutlak baginya Tak satu setanpun
mengusik mimpinya yang samaNamun sewaktu-waktu
derai sesal menyeruakAku tau kau jadi
saksi, ya, kau saksi wahai malam !Saksi atas ketidak
berdayaan mereka yang memilih jalan kapitalYang tak mau dan
malu bertahan hidup sepetak.
No comments:
Post a Comment