Tuesday, 23 December 2014

MALAM

Oleh : Neng Qori Nur Awaliah Setelah sunset itu, keindahannya memang direguk sekaligusSeolah setelah itu jingganya tak abadiYa, langit kini mulai bermuram berganti wajahKilas-kilas keindahannya telah dijilati warna pekat legam Suara anak-anak mulai reda, tawa-tawa mulai menjauhDesir angin membawa kabar sampai ke timurMengucap selamat tinggal pada sebuah cahayaSebagian keindahan telah direbahkan dibalik bumiDi balik yang tak pernah diketahui,seolah jiwa hanya bisa mengumbacarakannya Sesuatu terjadi begitu cepatKarna pedang zaman perlahan-lahan menghunus waktuAngin mendesir menyusuri dan menggeliati bumiIa menjamah sampai pada titik kepasrahan Dan, kini hanya awan hitam yang berhamburanMenutup sementara harapan-harapanHarapan kebanyakan insan telah diistirahatkanNamun taukah engkau wahai malam, ya kaulah malamAda harapan yang justru hidup saat kau di bangkitkanHarapan itu adalah sebuah kepasrahan pada takdir Tumbuh menjadi sengketa keniscayaan atas kenistaanMenabur mawar-mawar layu atas sebuah kehausan duniawiDan padamu malam, beberapa jiwa tak seindah gelapmuYa, dan bumi ini punya hukum yang mengecamnyaKehinaan itu seolah jalan yang dogmatis, jalan mutlak baginya Tak satu setanpun mengusik mimpinya yang samaNamun sewaktu-waktu derai sesal menyeruakAku tau kau jadi saksi, ya, kau saksi wahai malam !Saksi atas ketidak berdayaan mereka yang memilih jalan kapitalYang tak mau dan malu bertahan hidup sepetak. 

No comments:

Post a Comment